RSS

Menuju Jama’atul Muslimin

05 Nov

Menuju Jama’atul Muslimin

Peranan politik islam dan peradaban islam mengalami kemerosotan, yaitu pada saat keruntuhan turki ustmani dan penghapusan khilafah oleh Kemal Attaturk pada tahun 1924 yang setelah 14 abad Muslimin memegang peranan. Namun, hal tersebut tidak membuat sistem ajaran islam sebagai suatu nilai yang telah merasuk pada kalbu muslimin menjadi hilang. Islam tetap menjadi alternatif satu-satunya bagi manusia yang ingin selamat dunia dan akhirat sebagai sistem ajaran. Optimisme akan kebangkitan islam tetap ada dalam kalangan umat, dengan melihat beberapa faktor yang mendukung, yaitu Islam samapai saat ini masih terjaga orisinalitasnya, seperlima penduduk dunia adalah islam, negeri muslim yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah, warisan sejarah akan potensi islam, dan yang jelas janji ALLAH swt yang pasti akan terjadi mengenai khilafah akan diberikan pada orang beriman.

Setiap peradaban hampir selalu melalui tiga fase besar untuk berkembang. Pertama, fase perumusan ideologi dan pemikiran; kedua, fase strukturalisasi; dan ketiga, fase perluasan (ekspansi). Ideologi-ideologi besar semuanya mengalami tiga fase tersebut. Lihatlah Komunisme, Kapitalisme Barat, dan tak boleh dilupakan: Zionisme Internasional.

Peradaban Islam modern telah dimulai secara individu oleh para tokoh dan pemikir seperti Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Dr. Muh. Iqbal, Muh. Abduh, Muh. Rasyid Ridha, dan seterusnya, yang kemudian disambut secara lebih tertata, di antaranya dua tokoh pemuka dakwah yaitu Abul A’la Maududi dengan Jama’at Islaminya, dan asy-Syahid Hasan al Banna dengan Ikhwanul Musliminnya.

Dua pemuka inilah yang meletakkan dasar-dasar struktural gerakan kebangkitan Islam. Keduanya memiliki gagasan dasar yang sama. Bahwa kejayaan Islam dan mengembalikan Kekhilafahan Islam harus dimulai dari bawah, artinya persoalan aqidah yang kokoh, pemahaman syariah yang menyeluruh, dan pembenahan akhlaq yang benar. Pembenahannya harus dimulai dari tingkat individu, keluarga, masyarakat, negeri, dan barulah khilafah Islamiyah. Sedikit perbedaan yang ada, Maududi dengan Jama’at Islaminya banyak menunjukkan figurisme Maududi dan lemah dalam kaderisasi, lebih banyak berceramah dan menulis buku daripada ‘mencetak’ kader, pergerakannya terbatas di anak benua India-Pakistan. Pada Ikhwanul Muslimin, meski asy-Syahid Hassan al Banna adalah tokoh utama, tetapi tidak menyebabkan munculnya figurisme. Pergerakannya meluas ke hampir seluruh dunia. Sekurang-kurangnya pengaruh pemikirannya. Beliau lebih ‘mencetak’ orang daripada menulis buku. Dari para muridnya, muncullah pemikiran-pemikiran yang luar biasa. Bisa diambil contoh, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Hassan al-Hudaibi, Umar Tilmisani, Dr. Yusuf Qaradhawi, Musthafa Masyhur, Dr. Ali Juraishah, Syeikh Ahmad Qaththan, Dr. Musthafa as-Siba’io, dan lain-lainnya. Beliau seolah-olah hidup dan dilahirkan di bumi ini untuk memulai dan meletakkan dasar-dasar pergerakan dan dakwah Islam yang asli yang telah hilang di kalangan kaum Muslimin pada abad modern. Metode pergerakannya terus dikembangkan oleh para muridnya tanpa rasa khawatir akan kehilangan originalitas itu sendiri.

Sementara itu, gelombang kebangkitan Islam terus bergerak dengan tantangan-tantangan yang semakin berat. Fenomena kebangkitan Islam muncul di seluruh dunia. Palestina, tanah waqaf Islam, dari sanalah semangat jihad ditiupkan sampai hari kiamat. Tiupan itu menumbuhkan Gerakan Intifadhah, gerakan yang sulit ditumpas oleh Israel dibanding perlawanan negara-negara Arab, Islamic Trend Movement di Tunisia, Front Keselamatan Islam di Aljazair, Ikhwanul Muslimin di Jordan, dan perjuangan Mujahidin Afghanistan yang berjuang mengusir tentara Soviet. Kebangkitan Islam juga diwarnai dengan berbagai pusat-pusat studi Islam di Barat dan penerbitan buku-buku Islam yang terus membanjir. Kenyataan ini tentu membangkitkan optimisme, meski tidak menutup mata terhadap meningkatnya sekularisme dalam berbagai aspek kehidupan.

Fenomena kebangkitan Islam di Indonesia juga ditandai dengan beberapa hal yang menarik dikaji. Di kota-kota besar, di kampus-kampus, di sebagian kelas menengah, mereka mulai ‘belajar’ Islam. Isu pembangunan yang dimulai tahun 70-an dan membawa dampak modernisasi dan sekularisme membuat terjadinya arus balik pada tahun 80-an.

Fenomena lain sebelum tahun 80-an, jika berbicara tentang Islam dan gerakannya maka orang akan menoleh ke organisasi-organisasi Islam atau partai politik Islam seperti PPP, NU, Muhammadiyah, HMI, PII, dan seterusnya. Seolah-olah yang punya Islam dan dakwahnya hanyalah mereka. Gejala ini mulai mencair menjelang tahun 80-an. Memang nasib dakwah Islam tidak bisa diserahkan hanya pada organisasi atau partai politik Islam. Di sisi lain muncul kenyataan: organisasi-organisasi itu semakin kurang cekatan dalam merespon aspirasi-aspirasi Islam. Dalam beberapa segi terjadi beberapa ‘keletihan’ (fatigue) karena kurangnya terobosan-terobosan pemikiran yang strategis. Organisasi-organisasi itu mulai digugat oleh sebagian pendukungnya karena semakin kabur dalam menentukan tujuan akhir yang hendak dicapai. Bahkan di kalangan kampus, HMI kurang mendapatkan pasaran bagi mahasiswa yang mau aktif dan mendalami Islam. Juga tidak menutup mata tentang gerak organisasi-organisasi tersebut semakin terbatas. Oleh karenanya muncul kesadaran baru bahwa dakwah Islam bukanlah monopoli ormas dan orpol Islam, tetapi menjadi kewajiban setiap individu Muslim.

 

Pendahuluan

Pengertian jama’atul muslimin menurut bahasa “Sejumlah besar manusia” atau “sekelompok manusia yang berhimpun untuk mencapai tujuan yang sama” dan menurut syariat adalah jama’ah ahlul aqdi wal hilli apabila menyepakati seorang khalifah umat dan umat pun mengikuti mereka.

Kedudukan jama’atul muslimin menurut ajaran islam ialah memiliki kedudukan yang luhur dan mulia, diperintahkan dalam al-qur’an dan as-sunah untuk dijaga (Ali Imran : 103,105; Ar-Rum : 31-32).

Dari beberapa definisi dan kedudukan jama’atul muslimin diatas, boleh dikatakan bahwa jama’atul muslimin tidak ada lagi di dunia ini sekarang, yang ada adalah “Jamaah sebagian kaum muslimin” dan “Negara sebagian kaum mulimin”. Hadist Rosulullah pun memberitahukan aka nada masa dimana jama’ah tidak ada, dan kita mengarahkan untuk memegang teguh Islam. Bukti lainnya adalah sekarang ini ada beberapa pemerintahan yang memerintah umat islam. Banyak ayat dan hadist untuk persatuan dan keutuhan umat islam, namun umat islam sekarang ini malah berpecah belah dalam berbagai partai nasionalis, sekuler, sosialis, dan kelompok-kelompok. Sistem pemerintahan dalam umat yang mengadopsi sistem dari timur maupun barat, bukan berdasarkan syari’at.

Oleh karena itu, sekarang ini merupakan fardhu ‘ain bagi umat islam untuk mewujudkan jama’atul muslimin hingga tegak.

BAGIAN I (Struktur Organisasi Jama’atul Muslimin)

I

Basis jama’atul muslimin adalah umat. Menurut bahasa, Umat Islam mempunyai banyak arti diantaranya kaum, jama’ah, dan golongan manusia. Pengarang al Mufradat fi Dalalatiha al-Arabiyah mengartikan umat adalah setiap jamaah yang disatukan oleh sesuatu hal; satu agama, satu zaman, atau satu tempat. Baik faktor pemersatu itu dipaksakan ataupun berdasarkan atas pilihan.

Sedangkan berdasarkan secara geografis, titik tolak pembebasan tanah air umat Islam dimulai dari kawasan Darul ‘Adl yaitu Darul Islam. Negara yang bisa disebut sebagai negara Islam yang sebenarnya ialah negara yang dikuasai oleh kekuasaan negara keadilan (darul adl) yaitu negara yang menegakkan Islam dan melindungi hukum-hukumnya serta dipimpin oleh seorang khalifah pemegang imamah uzhma. Jika negeri-negeri itu tidak diperintahkan dengan syariat Allah oleh para penguasa Islam, serta tidak tuntuk kepada satu kekuasaan pusat, maka tidak bisa disebut darul adl. Setiap belahan bumi yang tidak diperintah dengan Islam, maka merupakan negeri yang dirampas dan harus dikembalikan kepadanya.

Umat Islam, sepanjang sejarahnya telah menempuh dua periodisasi yakni, pertama sebelum diutusnya Muhammad saw dan kedua dimulai dengan Muhammad saw. Pada periode ini dakwah berubah dari untuk kaum yang terbatas, menjadi untuk seluruh manusia. Umat Muhammad terbagi menjadi dua, yakni ummat yang menyambut dan menerima dakwah Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam secara kaffah. Kedua yakni golongan yang tidak mau menerima dakwah Muhammad saw, dan tidak masuk Islam secara kaffah (ummat yang harus didakwahi).

Karakteristik umat Islam dan sendi-sendi utama umat Islam adalah aqidahnya yang bersih dari segala bentuk kemusyrikan, aqidah yang komprehensif dan menyeluruh, memiliki manhaj Rabbani (murni), kesempurnaan manhaj, kepertengahan dan keadilan dalam segala persoalan (pandangan dan keyakinan, pikiran dan perasaan, organisasi dan konsolidasi, hubungan dan keterkaitan, dalam zaman, dan dari segi letak kawasan), dan fungsinya sebagai saksi atas manusia (berfungsi member penjelasan dan penerangan tentang kewajiban terhadap Rabb).

Adapun unsur kesatuan ummat Islam adalah kesatuan aqidah, kesatuan ibadah, kesatuan adat dan perilaku (dengan teladan Rasulullah), kesatuan sejarah, kesatuan bahasa (Arab), kesatuan jalan (jalan para Nabi dan Rasul), kesatuan dustur (Alquran dan Assunah), dan kesatuan pimpinan.

II

Pilar pertama jama’atul muslimin adalah syura. Syura ialah mengeluarkan berbagai pendapat tentang suatu masalah untuk dikaji dan diketahui berbagai aspeknya sehingga dapat dicapai kebaikan dan dihindari kesalahan. Merupakan dasar utama dan sifat yang melekat dalam tubuh umat islam, tanpa syura, maka akan hilang kemashlahatan dan kebaikan, seperti meninggalkan zakat dan puasa. Hukum syura adalah wajib bagi penguasa umat islam di setiap zaman dan tempat (Ali imran : 159).

Syarat anggota syura adalah orang yang menguasai alquran dan assunah, bukan pelaku dosa dan  memiliki lembaran putih, adil dan terpercaya, bijak dan mampu mencegah, dari imam Mawardi (‘Adalah, memiliki ilmu dan keahlian dalam masalaha yang dimusyawarahkan, cerdas dan bijak dalam memilih pendapat), jujur dan amanah. Hendaknya dibuat komisi untuk urusan tertentu.

Urusan yang boleh dimusyawarahkan adalah perkara yang tidak ada nashnya, negara, keagamaan yang masuk lingkup ijtihad.

Pendapat yang harus diambil pada saat syura adalah saat terjadi perselisihan maka diambil pendapat mayoritas (seperti contoh dari Rasul dan sahabat).

III

Dari Hadist Rasul, periode pemerintahkan yang disebutkan Rasul : kenabian, khalifah, “raja yang menggigit”, “raja yang dictator”, khaligaf (lagi) sesuai sistem kenabian.

Periode Bani Umayah sampai khilafah ustmaniyah adalah periode “raja yang menggigit”, sekarang ini umat islam berada dalam periode “raja yang dictator”, dan belum diketahui kepastian kapan Allah akan mencabutnya dan ada pada periode cita-cita umat islam yaitu periode “khilafah sesuai sistem kenabian”.

Pilar kedua Jama’atul muslimin adalah Imam. Imam adalah kepemimpinan umat tertinggi, pelaksana syari’at yang ditentukan Allah. Mengangkat imam hukumnya wajib. Wajib disini adalah wajib kifayah, yaitu seluruh umat wajib menegakkannya. Setelah umat dipimpin oleh khilafah dan Negara serta umat telah memberikan loyalitas pada khilafah ini, maka immamah ‘uzhma yang wajib kifayah telah sempurna ditegakkan.

Jika belum ditegakkan, maka umat tetap dituntut. Maka ada dua alternatif : mempersiapkan dan berusaha menegakkan imamah dalam umat, atau mengangkat imam sampai dilantik dan dibai’at. Jika salah satu alternative ini tidak dilakukan maka tidak ada imam, dan umat telah melakukan kemaksiatan.

Umat membutuhkan imam yang bermoral islami (‘adalah)dan ulama rabbani. Perselisihan syarat imam mengenai keturunan tidak perlu dipertentangkan, tidak perlu berpikir tentang hakikatnya, siapa, dan darimana asalanya, karena ada kekuatan yang besar yaitu kekuatan ALLAH yang mutlak, yang sudah terbukti saat menciptakan kepemimpinan dan memeliharanya.

IV

Menurut al-Ustadz Husain Jabir rahimahullah terdapat empat tujuan khusus jama’atul Muslimin, yaitu:

1. Pembentukan pribadi-pribadi Muslim (binaa’al-fard al-muslim)

2. Pembentukan rumah tangga Muslim (binaa’al-usrah-al-Muslimah)

3. Pembentukan masyarakat Muslim (binaa’al-mujtama’al-Muslim)

4. Penyatuan umat Muslim (Tauhid al-ummah al-Islamiyah)

Adapun tujuan umum Jama’atul Muslimin, menurut penulis buku ini, ada enam, yaitu:

1. Agar seluruh manusia mengabdi kepada Rabb Nya yang Maha Esa

2. Agar senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar

3. Agar menyampaikan dakwah Islam kepada segenap umat Manusia

4. Agar menghapuskan fitnah dari segenap muka bumi

5. Agar memerangi segenap umat Manusia sehingga mereka bersaksi dengan persaksian yang benar (syahadatain)

Beberapa sarana terpenting jama’atul muslimin dalam mencapai tujuannya

  1. Untuk mencapai tujuan khusus yaitu wajib mengembalikan segala media dan segala aspek kehidupan kepada arahnya yaitu sesuai batas-batas dan syari’at islam, menghancurkan semua unsur kemunafikan dan kefasikan dalam umat dan masyarakat, mempersiapkan umat islam sesuai tuntutan di masa mendatang.
  2. Untuk mencapai tujuan umum yaitu dengan menjelaskan prinsip-prinsip islam, menuntut manusia untuk masuk islam, menuntut semua Negara agar tunduk pada islam, mengumumkan jihad bersenjata dan terus menerus sampai tercapai kemenangan atas semua pihak yang menentang dan menolak tuntutan jamaatul muslimin.

BAGIAN II (Jalan Menuju Jama’atul Muslimin)

I

Islam menolak adanya sektoralisasi ajaran islam, dan menghukum orang-orang yang melakukannya sebagai orang yang merugi dan hina di dunia dan siksa pedih di akhirat. (albaqarah : 85-86)

Hukum islam dari segi hakikat dan cara dibagi dua, yaitu substansi hukum dan cara pelaksanaan hukum. Kedua bagian tersebut dari segi pelaku juga dibagi dua, yaitu untuk individu dan jama’ah.

II

Rosul menyadari tugasnya tidak bisa dilaksanakan sendirian tetapi perlu jama’ah yang kuat yang menerpakan syariat pada dirinya dan alam.

Rasul mengungkap pentingnya jamaah ini bagi keberhasil da’wah, dan menentukan eksis atau tidaknya dakwah.

Maka wajib untuk menegakkan jama’ah.

III

Masa tidak adanya jama’atul muslimin berkaitan dengan langkah rasul : Para da’i yang sudah ada satu jama’ah (maka bergabung dalam jama’ah) atau beberapa jama’ah islam (bergabung kepada salah satu jama’ah yang paling mendekati Islam), dan para da’i yang belum ada jama’ah yang berdakwah pada islam (mendirikan jama’ah).

BAGIAN III (Rambu-rambu sirah Nabi saw dalam menegakkan jama’ah)

I

Pertama adalah menegakkan jama’ah dengan menyebarkan prinsip-prinsip da’wah dan ajaran-ajarannya. Dalam langkah ini Rasul menempuh dua jalan : Pertama, Kontak pribadi (tahapan sirriyah (rahasia) dalam da’wah), masa ini mengalami dua keadaan yaitu permulaan dakwah dan penegakan jama’ah, dan pada saat pemerintah yang berkuasa melarang para aktivis da’wah secara terang-terangan atau mengadakan pengajian umum. Kedua, Kontak umum (tahapan dakwah secara terang-terangan).

II

Kedua adalah pembentukan dakwah untuk membina jama’ah. Sisi penataan ini ada beberapa cara :

  1. Takwin (kaderisasi) dalam tahap sirriyah yaitu rasul membagi orang-orang yang menerima dakwah dalam kelompok kecil yang terdiri tiga sampai lima orang
  2. Takwin (kaderisasi) dalam tahap ‘alaniyah yaitu membuat halaqah dalam jumlah besar, rihlah, dan khutbah /ceramah dalam umum
  3. Takwin (kaderisasi) dalam tahap sirriyah dan ‘alaniyah yaitu ada yang sudah terang-terangan dan ada yang sembunyi-sembunyi.

III

Ketiga adalah konfrontasi bersenjata melawan penentang dakwah dan penghalang penyebaran dakwah islam dan pembentukan kader-kadernya.

IV

Keempat adalah sirriyah dalam kerja membina jama’ah. Factor keberlangsungan pembinaan jama’ah :

  1. Sirriyah dalam gerak pembinaan jamaah
  2. Bersabar atas segala kesulitan
  3. Menghindari konfrontasi melawan kebatilan dalam dua tahapan awal : penyebaran dan takwin.

V

Kelima adalah bersabar atas gangguan musuh

VI

Keenam adalah menghindari medan pertempuran

BAGIAN IV (Tabi’at jalan menuju Jama’atul Muslimin)

I

Tabiat jalan ini adalah jalan surge yang harus dilalui dengan penuh kesabaran, karena jalan ini penuh dengan kesulitan dan penderitaan. Namun harus tetap dilalui sehingga tercapai tujuan gerakan Islam.

II

Banyak contoh yang menggambarkan mengenai tabi’at jalan ini, yang menunjukkan bahwa manusia memang harus selalu tunduk pada ketentuan-ketentuannya.

III

Perjuangan Islam setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, dilakukan melalui perjuangan individual (amal fardi) dan melalui per-juangan kolektif (amal jamai). Ditinjau dari tujuannya, perjuangan kolektif terbagi dalam beberapa bagian, yakni:
a. Perjuangan kolektif yang tujuannya langsung menegakkan khilafah. Kelompok ini antara lain, Hizbut Tahrir, Dawah Ikhwanul Muslimin, Partai Masyumi.

b. Perjuangan kolektif yang tujuan langsungnya dawah sosial, budaya, dan sufi. Kelompok ini antara lain Anshar as-Sunnah, Jamaah Tabligh.

c. Perjuangan kolektif yang sudah bubar, sementara yang lain tetap dapat mempertahankan diri.

Empat kelompok jamaah sebagai sampel pembahasannya, masing-masing memiliki kecenderunagn yang berbeda. Dalam kaidah penilaian atas jamaah-jamaah Islam, kriteria yang menjadi referensi dalam penilaian terhadap organisasi tersebut adalah Islam. Dengan Islam ditinjau tujuan-tujuannya, sarana-sarana untuk mencapai tujuan, serta pemikiran dan karakteristiknya.

Pertama, Jamaah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah yang didirikan di Kairo 1345 H yang orientasi dakwahnya kepada seruan sosial dan ilmu pengetahuan. JASM merupakan jamaah yang memberikan pengabdian pada bidang agama, budaya, dan social, serta batuan-bantuan social. Dalam pandangan orang lain, JASM tidak memiliki tujuan dalam jangka waktu tertentu, tidak mencerminkan gerakan yang memiliki sistem dalam pendidikan, pembinaan dan  strategi, tidak pula memiliki organisasi yang mengikat anggotanya, terbatas pada kelompok kecil orang yang komit pada agamanya.

Kedua, Hizbut Tahrir yang didirikan di Yordania pada 1378 H yang orientasi dakwahnya pada seruan politik (as-siyasi). HT dalam mencapai tujuannya dengan memegang kendali pemerintahan lewat umat. Penilaian atas HT adalah dari segi tujuan, sama dengan JASM yaitu terpaku dan terbatas pada sebagian tujuan dan arahan islam.selain itu dari segi pemikiran, HT melakukan penyimpangan dan perlu diperbaiki.

Ketiga, Jamaah Tabligh yang didirikan di India yang berorientasi pada seruan sufiyyah. Sarana JT adalah hadirin yang mengikuti ceramah diminta menyisihkan waktu tertentu sesuai kemampuan untuk berdakwah, dan rihlah. Penilaian terhadap JT adalah tujuan yang terbatas pada 6 tujuan, beberapa prinsipnya juga bertentangan dengan ajaran agama islam.

Keempat, Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir pada 1347 H. Jamaah ini mewakili gerakan dawah yang memiliki karakteristik syamil (menyeluruh). Tidak hanya memperhatikan aspek sosial dan ilmu pengetahuan semata, melainkan juga aspek sufiyyah dan siyasiyyah bahkan juga meliputi aspek harakiyyah dan jihadiyyah (pergerakan dan jihad).

Pada akhirnya, karakteristik jalan menuju penegakan khilafah Islamiyah amatlah sulit, sebelum mendapatkan pertolongan dari Allah, penuh dengan berbagai macam hal yang tidak disukai oleh nafsu. Setelah mendapat pertolongan Allah dihiasi dengan berbagai macam syahwat. Yang dituntut adalah tetap teguh berpijak kepada kebenaran dalam kedua situasi tersebut, yakni situasi bala dan bujukan. Ada banyak jamaah Islamiyah yang telah menempuh jalan ini. Di antara jamaah tersebut ada yang tujuan dan sarananya terbatas sehingga tidak mengantarkannya kepada tujuan yang diharapkan. Menurut syariat Islam ia tertolak. Ada juga jamaah yang tujuan dan sarananya lengkap, mencerminkan kesempurnaan dan keluhuran Islam dan diterima menurut syariat Islam. Jamaah yang memiliki kesempurnaan dan kekomprehensifan dalam tujuan dan sarananyalah yang layak mendapat loyalitas dan dukungan setiap Muslimin.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2011 in Liqa

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: